8 November 2016

Mount Partisi ExFAT di Ubuntu 14.04

Kalau kamu beli USB Flash Drive baru dan ingin format di Sistem Operasi Windows 7, biasanya akan terdapat pilihan filesystem ExFAT. ExFAT adalah pemutakhiran dari FAT32. Bedanya, FAT32 tidak mampu menampung file dengan ukuran lebih dari 4GB sedangkan ExFAT mampu.

Pada Linux (dalam hal ini Ubuntu 14.04) tidak mendukung secara langsung filesystem ini, sehingga USB FD yang diformat ExFAT tidak bisa langsung ter-mount. Agar dapat di-mount, maka kamu perlu install paket exfat-utils dan exfat-fuse

sudo apt-get install exfat-utils exfat-fuse

setelah selesai, tinggal colok USB FD kamu ke bandar USB di PC kamu.

24 Oktober 2015

Perangkat untuk Gaming di Linux


Apakah mouse dan keyboard tingkat lanjut (advanced) sangat diperlukan ketika anda bermain game? Bisa iya bisa juga tidak. Tergantung selera dan budget anda. Iya, karena biasanya perangkat tingkat lanjut ini bikin main tambah keren dan asyik. Tidak, karena bisa saja tanpa tombol-tombol tambahan itu, permainan anda sudah sangat baik. Untuk main, setahun lebih aku menggunakan Logitech G500S mouse dan Logitech G440 mouse pad. Keduanya aku beli dari situs belanja online Bhinneka.

Tombol-tombol tambahan yang terdapat pada mouse biasanya sangat membantu dalam permainan, Misalnya, pada DOTA 2 beberapa tombol dijadikan shortcut untuk melakukan beberapa hal seperti Quickcast (Apa itu quickcast? Lihat di sini) pada shortcut. Hal, ini tentu sangat membantu karena anda bisa melakukan beberapa hal dengan menekan satu tombol saja.

Aku menggunakan GNU/Linux dan Steam sebagai platform untuk bermain game. Dukungan Logitech terhadap GNU/Linux, terutama pada perangkat game-nya sedikit menuju tidak ada dan hal ini membuat sedikit kecewa. Aku tidak bisa menggunakan perangkat lunak konfigurasi (Logitech Gaming Software) untuk utak-atik fungsi tombol mouse G500S.

Akhirnya, sebagai solusi aku menggunakan mouse-nya pada PC lain yang menggunakan sistem operasi Windows 7. Aku menggunakan Synergy untuk berbagi mouse dan keyboard dengan PC GNU/Linux. Pada PC GNU/Linux disetel sebagai client, sementara PC Windows sebagai server. LGS (Logitech Gaming Software) terpasang pada PC Windows dan konfigurasi tombol dilakukan pada PC Windows. Ketika ingin bermain, cursor tinggal digeser ke PC GNU/Linux.

Sangat sulit memang mencari perangkat keras, terutama untuk game yang mempunyai kompatibilitas yang baik dengan GNU/Linux. Namun, beberapa forum menyarankan menggunakan Roccat. Aku coba selidiki mengenai Roccat dan dukungan pada GNU/Linux (lihat tautan ini). Roccat secara resmi belum memiliki pengembang driver untuk GNU/Linux, namun mereka berjanji akan mendukung GNU/Linux, karena dianggap sebagai platform gaming yang menjanjikan (seperti Valve dengan SteamOS-nya). Mereka mendukung para pengembang dari komunitas perangkat lunak merdeka, tapi aku tidak tahu seperti apa dukungan Roccat kepada para pengembang ini. Apakah dengan memberi perangkat gaming mereka kepada pengembang secara cuma-cuma? atau apakah dengan memberi dana untuk para pengembang? Seorang pengembang driver untuk Roccat menyatakan bahwa dia diberi keleluasaan oleh Roccat untuk menggunakan sumber daya mereka termasuk perangkat-perangkat baru yang belum dirilis ke pasar.

Sedikit banyak aku tertarik dengan Roccat sambil sesekali bertanya-tanya apa perangkat mereka cocok untuk diprosmosikan ke rekan-rekan yang juga menggunakan GNU/Linux sebagai platform gaming mereka. Mudah-mudahan kedepannya semakin banyak rekan-rekan yang tertarik menggunakan GNU/Linux sebagai platform gaming mereka sehingga dukungan Roccat jadi lebih serius lagi.


21 Oktober 2015

Anak Kami

Dalam blog ini, sekalipun aku belum pernah menulis sesuatu tentang ASI ataupun bayi. Aku juga kaget kenapa bisa nulis tentang ASI. Motivasinya  setelah membaca buku Catatan AyahASI yang direkomendasikan oleh salah seorang kawan yang sudah duluan punya momongan.

Sejak awal kehamilan istriku sampai saat sekarang ini, kami berdua terus rajin mencari informasi mengenai kehamilan, persalinan, perawatan dan pendidikan untuk bayi kami nanti. Salah satunya adalah dengan membaca buku.

Saat pertama kali direkomendasikan, aku enggak yakin bakal tertarik melahap isi buku Catatan AyahASI. Sebab, aku pikir kami sudah punya orang-orang yang lebih berpengalaman di sekitar kami dalam hal-hal yang berhubungan dengan bayi. Namun, ternyata banyak tulisan-tulisan yang mencengangkan (dalam arti positif) dalam buku ini. Ternyata kami banyak enggak tahunya selama ini tentang kehamilan dan bayi. Inisiasi Menyusui Dini (IMD), kolostrum, ASIX, ASIP, MPASI adalah istilah-istilah yang tentu terdengar asing bagi kami. 

26 September 2013 (lahirlah buah hati kami bernama Adifa Naziha Sagala. Kami, layaknya orang yang demam panggung, agak tergopoh-gopoh ketika si kecil baru saja lahir. RS tempat anak kami lahir memang memperbolehkan bayi diberi ASI Ekslusif. Kami pun sepakat Adifa satu ruangan dengan emaknya. Tapi aku sedikit kecewa karena tak ada informasi atau dorongan dari RS pada kami, pun tak ada pula perawat yang menyambangi ketika kami kesulitan. Aku mesti bolak-balik ruang perawat untuk tanyakan bagaiman baiknya. ASI emak Adifa enggak begitu lancar, sementara Adifa nangis terus. Wajar, Emak Adifa agak panik dan aku berusaha menenangkan. Menyusui sambil menahan perih, emangnnya aku bisa? Gitu kataku dalam hati. Sedihnya, perawat bilang pula anak kami nanti bisa kuning karena enggak dapat asupan ASI yang lancar. Alhasil anak kami dipindahkan ke ruangan bayi tersendiri dan dapat sufor 3 hari pertama kelahirannya.

Anakku harus dapat ASI, itu tekadku. Tanpa, bermaksud memaksa aku coba yakinkan istriku bahwa harus coba perah ASI-nya. ASIP-nya aku singgahkan ke ruangan bayi, tapi sayang aku gag bisa pastikan ASIP-nya dikasih atau enggak. Husnudzon sajalah.

Jalan kami untuk tetap memberi Adifa ASI juga enggak terlalu mulus. Saat menginjak umur satu tahun, Adifa sakit dan harus dirawat di RS. Ada yang bilang itu karena Adifa enggak dikasi sufor, jadi asupan gizinya kurang. Adifa memang porsi makannya sedikit sekali, bahkan hingga saat ini. Mudah-mudahan kami enggak kehilangan akal untuk terus rayu Adifa biar makannya lahap. Beberapa kali kami juga konsultasi dengan Dokter Anak, beliau selalu menyarankan untuk memberi sufor. Ya dasar kami memang agak keras kepala, jadi saran dokter itu enggak begitu kami tanggapi.

Adifa sudah 2 tahun, alhamdulillah makannya mulai lahap. Semoga makannya tetap lahap ya nak.